Back to the Past

February 26, 2008

“Embung ah, ah… embung… urang embung inget!”, air mata mengalir deras dari kedua matanya yang memerah, sementara itu teman-temanya berusaha menenangkannya. AS, Jurnalistik’99 Unisba menangis tersedu disaat dirinya melihat secara jelas proses kelahirannya. Dalam visinya yang begitu hidup itu AS melihat ibu yang melahirkannya dibawa oleh kereta dorong pada proses kelahirannya sendiri di sebuah rumah sakit., Kejadian di atas berlangsung di ruangan redaksi pers Suara Mahasiswa Unisba Sabtu, (1/2/03). 

AS telah membuktikan mungkinnya kita kembali kemasa lalu (Time Travel) walapun tubuhnya tetap berada pada ruang dan waktu yang sekarang tetapi gelombang otaknya mampu menembus kenisbian waktu menjelajah kemasa di mana dia dilahirkan. “Hal ini mungkin terjadi karena pikiran lebih cepat daripada kecepatan cahaya yang hanya 300.000km/detik bahkan kecepatan pikiran hampir tidak mempunyai jeda” ujar seorang narasumber yang tidak bersedia dipublikasikan jati dirinya. “Ada banyak metode untuk dapat melakukan Time Travel ini, di antaranya adalah subjek di bawa dalam kondisi somnabulisme (Tidur dalam) melalui proses yang dinamakan hipnotis ( *Dr. Franz Anton Mesmer penemu hipnotis dan magnetisme, abad ke-18), setelah subjek berada pada kondisi tersebut maka gelombang otak subjek tersebut difokuskan untuk ditembakan menjelajah pada koordinat waktu yang diinginkan”, mengutip perkataan narasumber tersebut.

 Jauh sebelum teori relativitas khususnya Einstein ditemukan, Muhammad Saw telah mengetahui teori kenisbian waktu tersebut bahkan mengalami langsung, semisal pada Isra mi’raj (QS. 17:1), pada ayat yang lain “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi kemudian urusan itu naik pada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. As-sajdah:5)

Film-film fiksi ilmiah banyak mengungkap tentang kemungkinan perjalanan antar ruang dan waktu ini, seperti dalam film startrek digambarkan tentang kendaraan luar angkasa dengan kecepatan cahaya (Warp), juga gerbang waktu yang para ilmuwan menamakannya warmhole (Lubang cacing), sebuah lubang energi yang diyakini sebagai pintu yang menghubungkan dimensi satu dengan lainnya. Namun apa yang terjadi jika teknologi tersebut sudah dapat dipakai? Manusia dapat mengubah sejarah! Ekstremnya, kita bisa membunuh kakek kita, yang artinya sama saja dengan menghapus keberadaan kita sendiri (Teori Paradoks). Namun tentu saja setiap teknologi apabila tidak disalahgunakan akan membawa manfaat bagi umat manusia.

 “ Saya melihat api besar, orang-orang berhamburan menyelamatkan diri dari api yang berkobar” ujar Ind, Fikom’2002 “ Saya ingin mendekat melihat lebih jelas, bahkan berusaha mencari orang yang meledakan tersebut tapi tidak bisa! rasanya berat untuk melangkah”. Ketika mencoba Travel ke 12 oktober 2002 pukul 12 malam, Legian, Kuta Bali.

    


Geometri Peninggalan Mesir Kuno

February 26, 2008

Alasnya segi empat, mempunyai empat sisi segi tiga sama kaki yang menyambung di ujungnya satu sama lain, di dalamnya kosong,  apa coba?

 Bajigur? Bukan, Daleman cowok! Ngaco, Awewe? Hus!, salah semua! Yang dimaksud adalah piramid, sebuah bangunan geometri yang terdapat di mesir, dibangun oleh para penguasa setempat pada zaman dinasti firaun. Diturunkan dari sebuah kata Yunani, Pyr berasal dari kata Pyro yang berarti api dan amid berasal dari kata yunani mesos yang berarti “di tengah–tengah”. Secara harfiah piramida dapat diartikan sebagai “api di tengah-tengah”.

Bangunan yang merupakan salah satu keajaiban dunia ini banyak mengundang kekaguman sekaligus tanya, bagaimana orang zaman dahulu dapat membuat bangunan geometri yang mempunyai keakuratan matematik yang jitu. Namun, terdapat fakta yang mengundang misteri selain akurasi pembuatan di atas.

Piramid yang dibuat oleh para khufu (Raja-raja mesir-red) tersebut ternyata berfungsi juga sebagai pengawet mayat. Jenazah para firaun setelah melalui proses pembalsaman akan disimpan di dalam bangunan tersebut, dengan maksud agar raja tersebut abadi. Dengan kata lain, materi apa pun yang disimpan di dalam sebuah piramid akan mempunyai daya tahan hidup yang lebih lama dibanding sebuah materi yang disimpan di tempat biasa, mengapa? Menurut beberapa percobaan yang dilakukan, terdapat fakta bahwa piramid merupakan bentuk geometri yang sebenarnya berfungsi menyerap energi bumi dan difokuskan oleh ruang kosong yang terdapat dalam ruangan tersebut menuju puncak bangunan.

“Sebuah pisau cukur” dalam bukunya, Leo F Ludzia, “Yang disimpan di ujung piramida tersebut selama beberapa hari akan menjadi lebih tajam.” Jelasnya. Adalah sebuah hal yang mencengangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu mempunyai teknologi canggih seperti itu, dari mana pengetahuan itu didapat, adalah hal yang memancing pertanyaan. Spekulasi pun terjadi, ada yang menduga teknologi tersebut didapat atas interaksi manusia bumi dengan manusia yang menghuni planet selain bumi. Mereka datang dengan alat transpotaasi super canggih, yang mempunyai teknologi mengatasi jarak dan waktu, dikenal dengan Unidentified Flying Object (UFO)

Penelitian yang dilakukan Bovis seorang berkebangsaan prancis yang keranjingan radiesthesia (Mempelajari radiasi energi tak tampak-red) menjelaskan bahwa bentuk atau ruangan kosong di dalamnyalah yang menyebabkan fenomena energi tersebut terjadi. Apabila anda sekalian merasa tertantang untuk membuktikan hal di atas, buatlah sebuah piramid mirip aslinya dengan ukuran yang dikondisikan, buatlah bangunan tersebut dari bahan apa saja, kayu triplek, kardus bahkan batu alam, yang jelas piramida tersebut harus mempunyai ruang kosong di dalamnya.

Setelah jadi, simpanlah piramida tersebut di atas lantai atau tanah(Bersentuhan dengan bumi-red) langkah selanjutnya letakan tangan Anda di ujung piramid tersebut, lalu rasakankah sensasi yang terjadi untuk beberapa saat maka jangan heran jika tangan anda akan segera dialiri suatu aliran energi lembut yang membanjiri aura tubuh anda sehingga semakin membesar, tebal dan terang. jika anda seorang jomlo jangan heran tiba-tiba di jalan seseorang mengejak Anda berkenalan, benda yang Anda buat tersebutkah?  J


Misteri Puasa

February 20, 2008

Kira-kira 10 tahun yang lalu, ada seorang teman berkulit hitam dengan perawakan kekar dan sorot mata tajam. Sebut saja namanya Darso. Ceritanya, konon ia mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Misal saja, kebal dari senjata tajam, serta mempunyai keahlian khusus memikat hati wanita dengan cara yang metafisik (pelet). Karena penasaran, banyak teman yang menanyakan bagaimana dia dapat melakukan hal seperti itu, termasuk saya sendiri tentunya.

Setelah melalui berbagai macam pendekatan , akhirnya dia bersedia membeberkan rahasianya dan tentu saja kami sangat antusias mendengarkan. Intinya, dalam obrolan itu terkuak bahwa dia mempunyai keahlian seperti itu dengan menjalani berbagai ritual khusus, di antaranya adalah puasa!

Entah bagaimana menjelaskan fenomena seperti di atas. Seorang manusia yang melakukan ritual-ritual khusus puasa dapat mempunyai keahlian yang diluar jangkauan akal manusia atau sains. Apa puasa itu? Apakah ada korelasi antara puasa dan cerita tentang Darso tersebut? Bagiamana menjelaskan fenomena di atas? Apakah puasa mempunyai manfaat signifikan yang tersembunyi?

Dalam banyak literatur, sebenarnya puasa itu dijalani oleh orang-orang jauh sebelum hitungan masehi dimulai. Dari berbagai macam kepercayaan dan agama, tercantum suatu ritual khusus bernama ’puasa’.

Puasa dalam Islam misalnya, dalam al-Quran maupun hadist diceritakan bahwa Daud berpuasa satu hari dan sehari tidak. Siti Maryam berpuasa selama satu hari sebelum mendapat mukjizat kelahiran Isa, dan Muhammad dengan puasa senin-kamisnya. Gandhi, tokoh pergerakan India pernah berkata, ”ada 3 hal yang membuat saya dapat hidup. Kepercayaan pada Tuhan, hidup bersahaja, dan puasa.”

Banyak penelitian tentang puasa berhubungan dengan kesehatan. Seperti pada penderita gangguan ginjal misalnya. Penelitian 43 pasien gatriatri yang dirawat di poliklinik subbagian gatriatri bagian ilmu penyakit dalam Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Ini, dilakukan untuk mengetahui pengaruh puasa Ramadhan terhadap penderita fungsi ginjal gatriatri.

Penelitian ini dilakukan dari tahun 1997 hingga tahun 1998. Pasien terdiri dari 26 pria (60,47%) dan 17 wanita (39,53%) yang berusia 60-47 tahun. Penyakit yang diderita pasien di antaranya jantung, hipertensi, stroke, diabetes melitus. Setelah riset berjalan, ternyata terjadi penurunan fungsi ginjal pada hari ke 7 hari puasa Ramadhan, dan ke 17 hari Ramadhan. Tetapi pada 28 Ramadhan terjadi fungsi ginjal bahkan antara 7-17 hari ramadhan terjadi perbaikan fungsi ginjal. Riset itu berkonklusi bahwa puasa Ramadhan tidak berbahaya bagi penderita fungsi ginjal gatriatri, bahkan lebih baik dibanding kondisi sebelum berpuasa.

Masih banyak rahasia yang tersembunyi di balik puasa. Tentang Darso, Gandhi, pasien penderita gatriatri, selanjutnya, tugas kita menyelami semua kebesaran ilahi ini.

 

Published on Bambu Bulletin