“Embung ah, ah… embung… urang embung inget!”, air mata mengalir deras dari kedua matanya yang memerah, sementara itu teman-temanya berusaha menenangkannya. AS, Jurnalistik’99 Unisba menangis tersedu disaat dirinya melihat secara jelas proses kelahirannya. Dalam visinya yang begitu hidup itu AS melihat ibu yang melahirkannya dibawa oleh kereta dorong pada proses kelahirannya sendiri di sebuah rumah sakit., Kejadian di atas berlangsung di ruangan redaksi pers Suara Mahasiswa Unisba Sabtu, (1/2/03).
AS telah membuktikan mungkinnya kita kembali kemasa lalu (Time Travel) walapun tubuhnya tetap berada pada ruang dan waktu yang sekarang tetapi gelombang otaknya mampu menembus kenisbian waktu menjelajah kemasa di mana dia dilahirkan. “Hal ini mungkin terjadi karena pikiran lebih cepat daripada kecepatan cahaya yang hanya 300.000km/detik bahkan kecepatan pikiran hampir tidak mempunyai jeda” ujar seorang narasumber yang tidak bersedia dipublikasikan jati dirinya. “Ada banyak metode untuk dapat melakukan Time Travel ini, di antaranya adalah subjek di bawa dalam kondisi somnabulisme (Tidur dalam) melalui proses yang dinamakan hipnotis ( *Dr. Franz Anton Mesmer penemu hipnotis dan magnetisme, abad ke-18), setelah subjek berada pada kondisi tersebut maka gelombang otak subjek tersebut difokuskan untuk ditembakan menjelajah pada koordinat waktu yang diinginkan”, mengutip perkataan narasumber tersebut.
Jauh sebelum teori relativitas khususnya Einstein ditemukan, Muhammad Saw telah mengetahui teori kenisbian waktu tersebut bahkan mengalami langsung, semisal pada Isra mi’raj (QS. 17:1), pada ayat yang lain “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi kemudian urusan itu naik pada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. As-sajdah:5)
Film-film fiksi ilmiah banyak mengungkap tentang kemungkinan perjalanan antar ruang dan waktu ini, seperti dalam film startrek digambarkan tentang kendaraan luar angkasa dengan kecepatan cahaya (Warp), juga gerbang waktu yang para ilmuwan menamakannya warmhole (Lubang cacing), sebuah lubang energi yang diyakini sebagai pintu yang menghubungkan dimensi satu dengan lainnya. Namun apa yang terjadi jika teknologi tersebut sudah dapat dipakai? Manusia dapat mengubah sejarah! Ekstremnya, kita bisa membunuh kakek kita, yang artinya sama saja dengan menghapus keberadaan kita sendiri (Teori Paradoks). Namun tentu saja setiap teknologi apabila tidak disalahgunakan akan membawa manfaat bagi umat manusia.
“ Saya melihat api besar, orang-orang berhamburan menyelamatkan diri dari api yang berkobar” ujar Ind, Fikom’2002 “ Saya ingin mendekat melihat lebih jelas, bahkan berusaha mencari orang yang meledakan tersebut tapi tidak bisa! rasanya berat untuk melangkah”. Ketika mencoba Travel ke 12 oktober 2002 pukul 12 malam, Legian, Kuta Bali.
Posted by isajatinegara
Posted by isajatinegara
Posted by isajatinegara