Kereta Api

September 21, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ini cerita tentang seorang anak laki-laki yang ketinggalan kereta. Yah, yang selalu ketinggalan kereta tepatnya. Yang selalu terlambat menyadari, seperti kali ini. Mungkin sekitar 3 tahun lalu aku kenal dia. Sebuah organisasi pers kampus menjadi garis pertemuan aku-dia-mereka. Bulan demi bulan, tahun demi tahun.. tak terjadi apa-apa. Aku hanya sering mendengar tentang seorang gadis yang kerap menjadi bahan pembicaraan. Si K lah yang suka, si U lah yang kesengsem,  si B lah yang akhirnya jadi gila mikirin sang gadis, dan entah berapa orang lagi yang menyebut-nyebut namanya. Bahkan, hingga hari ini. Semua-tentang-dia.

Aku. Hanya aku yang sekali pun tak pernah membicarakannya. Bertegur sapa pun aku hanya selintas lalu. Entah mengapa aku seperti-secuek itu. Namun yang namanya arah angin kan bisa berubah. Konon, perubahan udara yang bisa merubah arah angin-salah satunya. Entah apa yang tiba-tiba saja mengehentikan langkahku. Sejenak aku terpekur, ‘manis juga dia’ ada terbersit rasa suka padanya-aku yakin itu. Namun, ada sesuatu entah apa yang selalu mengentikan langkahku untuk.. mmmh.. memilihnya. Pernah beberapa kali aku mengantarkan dia pulang. Hal itu sebagai rasa simpatikku padanya, dan untuk mengenalnya, meyakinkan hatiku jua. Pernah suatu hari, sekitar April lalu. Aku dengan serta merta mengajaknya pulang (aku tak bisa menceritakan, hal apa yang menyebabkan aku tiba-tiba ingin mengantarnya pulang) Saat itu, aku sempat memintanya memegang tanganku, dan aku pun menggenggam tangannya selama beberapa saat “ok, thanks!” kubilang. Mungkin dia sedikit bigung dengan hal itu. Tapi.. sudahlah.. (genggaman itu sebenarnya caraku untuk meyakinkanku, apakah aku suka padanya, atau pelampiasanku saja). Intinya aku ingin mengantarnya pulang.. karena terus terang ada sesuatu rutinitas yang hilang dari keseharianku. (itu makanya aku pengen anter kamu) dan… akhirnya kita pulang bareng kan.

Day by day, aku masih tak karuan. Langkahku asing, sampai… aku memintamu menulis buku di tempatku bekerja. Kenapa ya, aku pilih kamu? Barangkali, lagi-lagi  ada yang tersembunyi dan tak juga mau keluar menampakan dirinya. Kalo aku-ingin-kamu.

Yah keyakinanku semakin menjadi. Aku-suka-kamu. Tapi, sekarang apa masih berguna? waktu udah ninggalin aku terlalu jauh, kereta api udah pergi menuju kota lainnya. Kamu udah tunangan…. (terus terang, aku terhenyak mendengar pengakuan kamu. Tapi, aku coba untuk tetap tenang), dan kamu kan Arab. Tradisimu mengharuskan kamu menikahi laki-laki dari rasmu sendiri. Jujur saja, aku PROTES! Aku pikir, itu sangat tidak adil, tidak manusiawi. APAKAH TUHAN MELARANG MENIKAHI ORANG ARAB! Trus kalo gw bukan Arab salag gue? salah temen2 gue! Trus, kalo orang arab nikah sama orang Sunda, gak bakalan bisa masuk surga.

Ah.. sudahlah mungkin aku terlalu mendramatisir… berasyik ria dengan sesuatu yang aku tidak tahu persis realitasnya. Aku hanya bisa menduga-duga.

yang jelas, dengan keadaan sekarang. Langkahku terhenti.. aku gak tahu mesti gimana. Aku terlambat menyadari, kalo aku emang suka sama kamu. Kenapa kita nggak punya cerita dari dulu-dulu, waktu kita masih sering di kampus. Aku ketinggalan kereta, lagi…